gaya bangunan terutama untuk tempat tinggal khas jawa

Beberapatempat ini juga bisa jadi referensi buat liburanmu selanjutnya, terutama untuk merayakan Hari Kemerdekaan Indonesia. Berikut sepuluh bangunan bersejarah di Bandung yang bisa kamu kunjungi. 1. Gedung Sate adalah kantor Gubernur Jawa Barat. Gedung yang dibangun pada 1920 ini memiliki museum yang berisi peninggalan Belanda. 2. LeCorbusier merupakan seorang pelopor gaya arsitektur modern abad ke-20, yang sangat berbeda dengan orang-orang pada masanya. Ia memiliki minat yang sangat besar pada gedung-gedung tinggi yang memiliki keteraturan dalam konstruksinya. Ia pernah menyebut bahwa gedung-gedung pencakar langit di Amerika agak terlalu kecil. Desain ruko minimalis ini sangat direkomendasikan bagi Anda yang tinggal di ruko. Desainnya keren sebagai tempat bisnis, namun juga aestetik untuk tempat tinggal. Bukan itu saja, ruko minimalis juga menjadi pilihan yang sangat tepat bagi mereka yang baru memulai bisnisnya. Arsitekturtradisional Jawa terutama di wilayah Jawa Tengah lebih banyak dikenal dengan bangunan Joglo. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Rumah adalah bangunan yang dijadikan tempat tinggal selama jangka waktu tertentu. Rumah bisa menjadi tempat tinggal manusia maupun hewan, namun tempat tinggal yang khusus bagi hewan biasa disebut Abstract ABSTRAK Rumah merupakan kebutuhan pokok untuk tempat tinggal, terutama pada generasi milenial yang memasuki tahap berkeluarga. Kepemilikan rumah oleh generasi milenial mempertimbangkan Atm Online Lừa Đảo. Terkenal sebagai rumah tradisional, rumah joglo juga bisa dipadukan pada rumah masa kini. Yuk, kenali jenis dan penerapannya pada hunian modern! Sumber Rumah joglo dikenal sebagai rumah khas Jawa. Namun menurut KBBI, arti joglo’ itu sendiri adalah gaya bangunan untuk tempat tinggal khas Jawa, yang atapnya menyerupai trapesium. Di bagian tengah menjulang ke atas berbentuk limas, serambi depan lebar dan ruang tengah tidak bersekat-sekat, biasanya dipergunakan sebagai ruang tamu. Menurut pandangan budaya, sebuah rumah joglo menggambarkan kehidupan orang masyarakat Jawa seutuhnya, khususnya dalam prinsip gotong royong. Gaya joglo merupakan salah satu gaya rumah yang memiliki nilai sejarah dan keunikan hingga saat ini. Bagi kamu yang sering pulang kampung ke daerah Jawa Tengah, pasti akan menemukan rumah joglo yang dihuni oleh masyarakat lokal. Ingin tahu lebih banyak mengenai salah satu rumah adat Jawa ini? Simak ulasan lengkapnya berikut ini! Mengenal Jenis Rumah Adat Joglo Meski memiliki satu bentuk yang sangat familiar, namun nyatanya ada beberapa jenis rumah joglo yang perlu kita ketahui. Ini dia daftarnya! 1. Joglo Sinom Bangunan ini menggunakan 36 tiang dengan empat saka guru sebagai pondasi terkuatnya. Atap bangunan memiliki empat sisi dan masing-masing memiliki tiga tingkat dan satu bubungan. Bentuk bangunan berasal dari pengembangan joglo dengan teras keliling. 2. Joglo Jompongan Joglo Jompongan merupakan rumah adat joglo dengan dua pintu geser berbentuk kubus. Bentuk ini merupakan dasar dari rumah joglo. 3. Joglo Pangrawit Joglo Pangrawit adalah hunian joglo berlambangkan gantung, dengan atap kubah yang terletak di atas penanggap. Setiap sudut Joglo Pangrawit dilengkapi tiang yang disebut saka. 4. Joglo Hageng Joglo Hageng adalah rumah joglo yang lebih tinggi dengan tambahan atap pengerat. Jenis joglo satu ini umumnya ditambahi oleh tratak keliling seperti halnya sebuah pendopo rumah kerajaan. 5. Joglo Semar Tinandu Jenis rumah joglo ini umumnya digunakan untuk patung atau gerbang kerajaan. Namun, tiang pada jenis joglo ini biasanya diganti oleh dinding penghubung, sehingga lantai bawah atap lebih luas dan tinggi. Udara yang masuk dipengaruhi pada bagian depan, namun lebih sejuk karena atapnya yang miring sehingga sirkulasi udara menjadi optimal. 5 Inspirasi Rumah Joglo Modern di Hunian Masa Kini Walau memiliki nuansa dan filosofi budaya yang sangat kental, namun hunian dengan gaya joglo tak lekang oleh waktu. Konsep tradisional yang kental dapat berpadu secara unik dengan desain rumah modern, sehingga dapat menjadi sebuah karya seni yang sempurna. Oleh sebab itu, ada beberapa inspirasi hunian joglo yang memadukan unsur budaya dengan desain modern dan kekinian. 1. Rumah Joglo Modern Minimalis Sumber Jika banyak orang menilai sebuah hunian joglo memiliki konstruksi yang rumit, maka hal tersebut adalah asumsi yang salah. Sebab, sebuah hunian bergaya joglo bisa didesain secara modern dengan konstruksi bangunan yang sederhana seperti rumah minimalis pada umumnya. Joglo modern ini terlihat sangat kentara pada sisi bagian atap berbahan kayu, dengan paduan bangunan minimalis nan kekinian. Hasil akulturasi desain ini memadukan kesempurnaan dari segala sisi. 2. Rumah Joglo Modern Atap Putih Sumber Secara umum, sebuah hunian bergaya joglo didominasi oleh bahan kayu berwarna coklat yang sangat unik dan klasik. Kesan otentik tersebut rasanya tak salah jika dimodifikasi melalui permainan warna pada beberapa aksen, termasuk penggunaan warna putih sebagai warna dasar rumah. Jika warna coklat menimbulkan kesan klasik, maka penggunaan warna putih justru memberi kesan elegan dan modern. Selain warna putih, warna-warna yang bersifat hangat dan kalem juga sangat cocok untuk menghiasi joglo seperti merah muda, biru muda hingga hijau. 3. Rumah Joglo dengan Atap Terbuka Sumber Atap pada hunian joglo merupakan salah satu ciri khas yang sangat unik bagi setiap orang yang melihatnya. Namun, dengan konstruksi atap yang sama seperti rumah joglo pada umumnya, kamu juga bisa melakukan modifikasi pada bagian atap, dengan bentuk terbuka. Penggunaan atap terbuka tidak hanya meningkatkan nilai estetika saja, melainkan juga dapat membantu sirkulasi udara. Tak hanya membantu sirkulasi udara rumah saja, kamu juga bisa melakukan teknik aeroponik di bagian atap rumah. 4. Rumah Joglo Oriental Sumber Secara umum, mayoritas joglo mengedepankan budaya adat Jawa sebagai ciri khasnya. Namun, untuk mengurangi rasa monoton, kamu juga bisa memadukan antara gaya joglo dengan arsitektur khas oriental yang berkarakter. Khususnya pada susunan kayu dan konstruksinya. Selain itu, desain hunian joglo ini dilengkapi oleh batu-batu alam juga tanaman minimalis yang cantik, sehingga menghidupkan suasana rumah mulai dari sisi depan. Yuk, Terapkan Konsep Joglo pada Hunianmu! Gaya joglo tak hanya memiliki unsur budaya yang kental pada hunian, melainkan juga ikatan kekeluargaan yang mengalir secara emosional. Tak hanya itu, desain rumah joglo juga memberi pengalaman layaknya pulang kampung setiap hari. Mau melihat desain rumah unik lainnya? Simak artikel-artikel menarik mengenai properti di Kamu bisa wujudkan hunian idaman seperti Summarecon Mutiara Makassar hanya di dan yang pastinya AdaBuatKamu! - Rumah adat Jawa Tengah merupakan gaya bangunan yang masih sering digunakan hingga saat ini. Nama rumah adat Jawa Tengah ini salah satunya adalah Joglo yang dari segi budaya memiliki filosofi yang mendalam. Walau begitu, ternyata Jawa Tengah masih memiliki beberapa bentuk rumah adat juga Daftar Lagu Daerah Terlengkap dari Aceh hingga Papua Meski mengalami banyak penyesuaian, gaya rumah adat Jawa Tengah masih kerap diadopsi dalam pembangunan tempat tinggal maupun bangunan lain. Baca juga 7 Kuliner Jawa Tengah, Langka Ditemui di Jakarta Menarik untuk dipelajari, berikut adalah beberapa jenis rumah adat dari Jawa Tengah serta ciri khas dan keunikannya. Baca juga Joglo Kelor, Saksi Bisu Perjuangan Tentara Pelajar Melawan Penjajah Rumah Adat Jawa Tengah 1. Rumah adat Joglo Shutterstock/nawara Rumah Joglo DOK. Shutterstock/nawara Nama rumah adat Joglo berasal dari tajug loro yang berarti dua gunung atau juglo. Hal ini identik dengan bentuk atap rumah Joglo yang menyerupai kenampakkan dua gunung. Rumah Joglo memiliki beberapa ruangan seperti pendhapa atau pendopo, pringgitan, dan omah dalem atau omah njero. Bagian unik yang jadi ciri khas rumah adat Jawa Tengah ini adalah adanya 4 tiang di bagian tengah yang disebut soko guru. Meski terlihat sederhana, rumah Joglo dulunya hanya dimiliki oleh kalangan priyayi atau bangsawan karena materialnya yang mahal dan waktu pembuatannya yang memakan waktu lama. 2. Rumah Adat Limasan Dok. Disporapar Provinsi Jawa Tengah Rumah adat Limasan asal Jawa Tengah. Tak hanya Joglo, rumah adat Limasan asal Jawa Tengah juga masih diminati hingga saat ini. Keunikan bangunan ini diambil dari gaya atapnya yang memiliki bentuk limas. Adapun bentuk tubuh bangunananya tetap menggunakan bentuk persegi seperti bangunan lainnya. Sementara tiang penyangga rumah Limasan beragam tergantung pada besar-kecilnya bangunan. Selain itu bentuk bangunan limasan juga sederhana sesuai dengan nilai-nilai kehidupan yang dianut orang Rumah Adat Tajug Dok. Ilustrasi rumah adat Kudus. Konsep rumah adat Tajug digunakan hanya pada bagunan-bangunan tertentu di Jawa Tengah. Sebutan Tajug berasal dari kata Taj atau Taju yang dalam bahasa Arab berarti mahkota. Bangunan rumah adat dari Jawa Tengah yang memiliki atap Tajug biasanya berbentuk persegi. Bangunan Tajug biasanya digunakan sebagai tempat ibadah dan mengadakan kegiatan sakral. 4. Rumah Adat Cakrik atau Panggang Pe Dok. Disporapar Provinsi Jawa Tengah Ilustrasi Joglo dari Jawa Tengah. Jenis rumah adat dari Jawa Tengah ini biasanya digunakan sebagai warung atau tempat berjualan. Melihat fungsinya maka rumah Adat Cakrik atau Panggang Pe memiliki ukuran besar dengan tiang sebanyak enam buah. Tiang bagian depan memiliki ukuran lebih pendek daripada ukuran tiang yang digunakan di bagian belakang. Gaya arsitektur rumah Adat Cakrik atau Panggang Pe yang indah dan elegan masih kerap digunakan hingga saat ini. 5. Rumah Adat Kampung Shutterstock/E. S. Nugraha Rumah Joglo DOK. Shutterstock/E. S. Nugraha Nama rumah adat Kampung berasal dari kata kapung atau katepung yang artinya dihubungkan. Rumah ini digunakan sebagai rumah tinggal biasa dengan bentuk bangunan yang besar. Hal ini karena atap rumahnya dilakukan dengan cara menghubungkan dua bidang atap dan yang menghilangkan komponen kayu lainnya dari bentuk sebelumnya. Keunikan lainnya adalah keberadaan dua buah teras pada bagian depan dan belakang bangunannya. Sementara karena ukurannya yang besar, tiang pada rumah adat Jawa Tengah ini memiliki jumlah kelipatan empat atau minimal delapan. Sumber Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Mari bergabung di Grup Telegram " News Update", caranya klik link kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel. tentang Rumah adat Jawa Tengah kita kan langsung berpikir Joglo. Tahukah anda selain mengandung nilai historis yang kental. Rumah adat joglo telah menjadi perwujudan jati diri masyarakat Jawa seperti halnya rumah Gadang bagi orang Minang. Keunikan Rumah Joglo Joglo menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia KBBI adalah gaya bangunan untuk tempat tinggal khas Jawa yang atapnya menyerupai trapesium. Rumah Joglo pun memiliki keunikan dari beberapa bagian bangunan, ini denah yang biasnaya teradpata dalam arsitektur bangunan Joglo tradisional dan fungsinya yang berbeda-beda Pendopo Pendopo adalah salah satu bagian dari Joglo yang kerap kali dijumpai. Pendopo yang merupakan ruangan untuk menjamu para tamu, banyak menjadi inspirasi rumah modern minimalis dengan konsep ruangan terbuka. Pringgitan Pringgitan merupakan ruang tengah yang dipakai untuk menerima tamu namun masih memiliki hubungan dekat dengan pemilik rumah. Umumnya, pringgitan menjadi ruang yang menghubungkan antara pendopo dengan omah. Pringgitan yang berarti wayang atau bermain wayang, memiliki bentuk atap kampung atau limasan yang sangat menarik. Omah Omah atau juga omah ndalem dan omah njero adalah sebuah ruang tempat anggota keluarga berkumpul. Omah yang menjadi rumah utama berasal dari kata Austronesia yang artinya rumah. Omah biasanya memiliki tata letak persegi panjang atau bentuk limasan yang memiliki lantai ditinggikan dan dilengkapi berbagai ornamen yang unik. Senthong Senthong merupkan nama untuk bagian di dalam Rumah adat Joglo yang merupakan kamar dan terbagi menjadi senthong kamar kanan, kiwa atau kamar kiri serta kamar tengah. Senthong sendiri biasanya merupakan ruang tertutup yang digunakan sebagai kamar untuk berbagai keperluan seperti kamar tidur, dapur, kamar mandi, hasil pertanian dan lainnya. Namun, adapun senthong secara tradisional yang menjadi ruang pasangan pengantin baru, terletak di tengah rumah yang biasanya dihias semewah mungkin dan dikenal sebagai tempat tinggal Dewi Sri. Pedepokan Pedepokan merupakan salah satu bagian dari Rumah adat Joglo yang menjadi tempat untuk beribadah atau menenangkan diri. Pedepokan menjadi tempat yang sakral untuk menjalankan ritual dan sebagai tempat perlindungan diri. Saka Saka merupakan bagian struktur pada bangunan Rumah adat Joglo yang merupakan penyangga. Mewakili empat arah mata angin yakni timur, selatan, utara dan barat, yang dalam saka guru terdapat sebuah tumpang sari dengan susunan pola terbalik. Corak bangunan rumah adat joglo ini biasanya khas sekali dengan arsitektur Jawa-nya. Namun, tahukah kamu jika sebenarnya arsitektur rumah adat ini juga dipengaruhi oleh corak budaya agama Hindu? Itulah mengapa ajaran keagamaan yang dianut masyarakat turut memengaruhi perilaku sosial masyarakat. Tidak hanya berhenti pada kondisi sosial semata, tapi juga berdasarkan skema arsitektur bangunan yang sudah ada. Umumnya, bangunan rumah adat yang masih ori hampir serupa dengan pura umat Hindu di India. Pelan tapi pasti, perkembangannya kian tak terbendung. Di samping itu, rumah adat Joglo juga memiliki nama lain, yaitu rumah Tikelan. Semua bermula karena atap rumah itu seakan-akan tikel atau patah menjadi tiga bagian. Bagian yang paling atas itulah yang bernama Joglo atau brunjung dengan ditopang oleh empat batang tiang utama yang juga disebut saka guru. Jika dibandingkan dengan tiang-tiang lainnya, saka guru memiliki ukuran relatif panjang dan lebih besar, didirikan di atas landasan dari batu yang disebutnya ompak. Apabila ditotal, tiang Rumah adat Jonglo secara keseluruhan berjumlah 36 buah, terdiri dari 4 batang saka guru, 12 saka penanggap, dan 20 saka rawa. Lantai yang dibatasi dengan saka penanggap lebih tinggi daripada lantai yang mengelilinginya. Jenis Rumah Joglo Berikut ini Jenis Rumah Adat Joglo yang ada di Masyarakat Jawa Rumah Joglo Sinom Joglo Sinom Rumah adat Jonglo Sinom menggunakan 36 tiang dan empat diantaranya yang merupakan saka guru. Rumah adat Jawa ini memiliki atap dengan empat sisi dan masing-masing memiliki tiga tingkat dan satu bubungan. Omah atau rumah utama pada jenis ini memiliki tata letak persegi panjang dengan lantai yang ditinggikan. Pada dasarnya, rumah adat ini akan dikelilingi oleh teras Rumah adat Joglo atau yang biasa dinamakan pringgitan yang menghubungkan pendopo dengan omah. Rumah Joglo Pangrawit Joglo Pangrawit Rumah adat Joglo Pangrawit ini memiliki lambang gantung dan atap berbentuk kubah dan telah dilengkapi dengan tiang di setiap sudut saka. Bentuk rumah adat Jawa ini sering menjadi inspirasi arsitektur Rumah Joglo modern. Rumah Joglo Jompongan Rumah adat Jawa Tengah, Joglo Jompongan memiliki ciri khas atap yang bersusun dua dan memiliki bubungan atap yang memanjang ke arah samping kanan dan samping kiri. Biasanya, Joglo Jompongan menggunakan pintu geser dan memiliki denah lantai yang cenderung bujur sangkar. Selain itu, bangunan Joglo Jompongan biasanya tidak banyak menggunakan ornamen hiasan pada atap sehingga terkesan polos. Rumah Joglo Mangkurat Rumah Joglo Mangkurat memiliki ciri khas atap yang bersusun tiga sudut dengan kemiringan yang berbeda-beda. Biasanya rumah adat Jawa ini memiliki batas di antara sudut dengan pemakaian lisplank. Bentuk atap rumah adat joglo mangkurat biasanya memiliki susunan atap yang lebih tinggi pada bagian tengah. Rumah Joglo Hageng Rumah Joglo Hageng memiliki ciri atap tritisan keliling yang luas serta bangunan yang lebih besar. Rumah ini memiliki proporsi atap utama yang lebih besar dibandingkan dengan joglo Mangkurat atau Pangrawit. Joglo Hageng juga memiliki tratak keliling yang terlihat seperti istana sehingga terlihat lebih menarik dan berkelas. Rumah Joglo Lawakan Joglo Lawakan Rumah adat Jonglo Lawakan memiliki ciri khas atap yang bersusun dua dengan bentuk yang terlihat sederhana. Atap yang terletak di Joglo Lawakan lebih meruncing ke atas namun tetap memiliki atap yang landai ke bawah dan ukuran yang lebar. Rumah Joglo Panggang Pe Joglo Panggang Pe Rumah adat Jonglo yang terakhir adalah Joglo Panggang Pe. Keunikan rumah adat Joglo Panggang Pe terletak pada penggunaan empat hingga enam tiang. Selain Jawa Tengah, model rumah Joglo juga tersebar di daerah Jawa Timur bagian barat atau istilahnya daerah kulonan. Soalnya, memang dulunya kawasan ini berada di bawah pemerintahan Kerajaan Mataram sehingga corak Rumah adat Jonglo juga banyak ditemui. DAPATKAN UPDATE BERITA LAINNYA DI Rumah jika diartikan ke dalam bahasa Jawa halus biasa disebut dengan griya atau dalem. Griya berasal dari kata gunung agung yang diartikan oleh masyarakat Jawa sebagai gunung besar sebagai sumber kehidupan, sedangkan dalem diartikan sebagai rumah atau saya. Sehingga terdapat keterkaitan antara rumah dan pribadi budaya Jawa, rumah merupakan hubungan yang memiliki keterkaitan antara manusia dengan alam. Hal ini membuat bentuk dan isi di dalam rumah memiliki nilai-nilai yang filosofis dengan alam sekitar. Bahkan dalam pembuatan rumah Jawa, memiliki unsur-unsur yang berupa tata ruang, ornamen dan bentuk arsitektur Jawa juga dikenal cukup pandai untuk meredam gempa. Hal ini ditunjukkan dari bentuk atap bangunan menggunakan tritisan yang lebar untuk melindungi halaman yang ada dibawahnya. Arsitektur seperti ini sangatlah cocok untuk daerah yang memiliki iklim dan sering terjadi yang mempelajari bangunan masyarakat Jawa disebut dengan Ilmu Kalang atau disebut juga Wong Kalang. Terdapat 5 macam bangunan pokok arsitektur Jawa yaitu1. Panggang pe Studio7Merupakan bangunan yang hanya memiliki atap sebelah bagian saja. Hal ini pada jaman dahulu digunakan sebagai tempat untuk begadang atau pos ronda pada saat ini, akan tetapi mampu diaplikasikan sebagai atap sebuah rumah KampungMerupakan dengan atap dua sisi pada bangunan dan sebuah bubugan di tengahnya. Umumnya digunakan sebagai tempat tinggal masyarakat seperti halnya menjadi konsep rumah pada saat Limasan bangunan yang memiliki empat sisi atap dengan bubugan yang terdapat di tengah atap. Limasan juga biasanya digunakan sebagai tempat tinggal masyarakat Jawa yang memiliki emperan pada setiap sisi Joglo atau TikelanMerupakan bangunan dengan Soko Guru dengan atap bangunan empat sisi dan sebuah bubugan ditengahnya. Jenis bangunan ini biasanya digunakan sebagai pendopo atau rumah tinggal bagi kaum bangsawan. melayani Jasa Desain dan Konstruksi untuk proyek Arsitektur, Interior dan Furniture secara offline maupun online untuk seluruh kota di Indonesia. Untuk info pemesanan dan konsultasi desain silakan hubungi kamiTelephone 021 5083 5525Call/WA 082190007017 / 081282868677LinkedIn Studio7 Design and Build Instagram info Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. Wonosobo adalah sebuah kabupaten di Jawa Tengah dan terletak persis di tengah-tengah pulau Jawa. Sebagai daerah paling sentral di pulau Jawa, kabupaten yang terkenal dengan Mie Ongkloknya ini menjadi pusat pertemuan dari berbagai budaya, terutama antara barat dan timur wilayah Jawa. Bukan hanya terkenal akan tempat wisatanya saja seperti dataran tinggi Dieng, namun Wonosobo juga mempunyai ciri khas unik dari budaya masyarakatnya. Salah satunya Jawa di Wonosobo sebenarnya termasuk dalam sub dialek Kedu yang juga dituturkan oleh masyarakat bekas wilayah Karesidenan Kedu lainnya seperti Magelang, Purworejo, Temanggung, dan Kebumen. Tetapi jika kita amati, masing-masing kota dan kabupaten tersebut memiliki banyak sekali perbedaan seperti Magelang dan Purworejo yang masih sangat mirip dengan dialek bandekan Yogyakarta, Temanggung yang sudah mulai sedikit tercampur dengan aksen lain yang agak berbeda, dan Kebumen yang ngapak. Masyarakat Wonosobo sebenarnya bukan termasuk penutur bahasa ngapak ala Banyumasan, bukan juga pengguna bahasa Jawa bandekan seperti umunya kota-kota lain Jawa Tengah-Yogyakarta. Terus apa kalau begitu? Ini dia beberapa ciri khas Bahasa Jawa ala Logat dan aksen yang unik dan beragam Sebagai daerah pertengahan yang menjadi pertemuan antara budaya banyumasan yang ngapak dengan Surakarta/Yogyakarta yang medhok, aksen dan gaya bicara masyarakat Wonosobo adalah campuran antara keduanya. Namun gaya bicara yang ada pun ternyata bukan hanya satu jenis. Jika kita amati, sebenarnya semakin ke barat wilayah Wonosobo gaya bicara masyarakatnya pun semakin mirip dengan dialek banyumasan. Sebaliknya semakin ke barat gaya bicaranya lebih mendekati dialek bandekan khas Jogja dan Solo yang medhok. Sebagai informasi, saya berasal dari daerah Kecamatan Sapuran yang mana sudah mendekati perbatasan dengan Magelang dan Purworejo sehingga cukup berbeda dengan teman-teman saya yang berasal dari daerah lain walaupun masih satu Kabupaten seperti Kertek, Mojotengah, Wadaslintang, dan Garung. Sebagai contoh, jika pelafalan huruf "K" diakhir sebuah kata seperti Sitik, Gasik, Apik, dan Badak di beberapa kecamatan seperti Kertek, Garung, dan Mojotengah dibaca dengan pelafalan yang tegas, di kecamatan yang lain seperti Sapuran dan Kepil adalah dengan membaca huruf "K" secara lebih samar-samar misalnya siti', api', bada', listri' mungkin seperti kata "tidak" atau "agak" dalam bahasa Indonesia.Begitupun dengan logat yang dituturkan. Beberapa daerah memiliki logat yang lebih meliuk-liuk dan banyak penekanan. Sementara di daerah yang berbeda, aksen yang digunakan cenderung lebih datar dan halus. Antar kecamatan bahkan desa pun selalu memiliki ciri khas berbicara yang berbeda-beda, apalagi antar kota. Orang Wonosobo biasanya akan menganggap lucu dan agak lebih kasar ketika mendengar orang-orang dari daerah Banyumas yang berbicara dengan aksen ngapaknya. Namun orang Wonosobo juga akan dianggap lucu dan unik jika orang-orang Jogja/Solo mendengar mereka berbicara. Salah satu kelebihan orang Wonosobo adalah mereka cukup adaptif untuk masalah bahasa, sehingga hanya butuh waktu singkat agar mereka dapat menyesuaikan dengat logat dari daerah lain 2. Pengucapan huruf vokalDalam hal ini, warga Wonosobo agak memiliki kesamaan dengan daerah Jawa Timur di mana pengucapan E dan I memiliki cara baca yang sama antara huruf vokal pertama dan kedua. Misalnya adalah kata titip" yang dalam Bahasa Jawa pada umumnya akan dibaca "titep", maka akan dibaca "tetep" dalam pengucapan ala Wonosobo. Ada pula pengucapan U dan O yang dilafalkan berbeda. Jika dialek surakarta membaca kata "tutup" dengan ucapan "tutop", masyarakat Wonosobo melafalkan U dalam kedua huruf vokal sebagai O seperti O dalam Oreo, maka akan dibaca "totop". Begitu juga dengan kata lain yang memiliki pola yang sama seperti kata durung, atau urung dialek Surakarta yang dalam bahasa ala Wonosobo diucapkan "horong". "Deke gak tetep ora? nyong gak lunga aja klalen totopna lawang ya nek horong di totop". Yang menjadi ciri khas lain adalah penggunaan kata A yang tetap dibaca A tidak seperti pada dialek surakarta yang dobaca O. Hal ini menjadi kemiripan dengan dialek banyumasan atau ngapak. Misalnya kata-kata seperti boso, sego, keno, bedo, dan dendo yang dibaca basa, sega, kena, beda, dan, denda. Dan biasanya masyarakat Wonosobo mengganti huruf A diawal kata setelah huruf konsonan dengan E, seperti bali, bayar, dan banyu menjadi beli, beyar, benyu. "Nyong guli gak beli mbeyar benyu ndeset ya". 3. Kosakata yang melimpah Bukan hanya logat, Bahasa Wonosobo juga memiliki jumlah kosakata yang banyak, beragam, dan bahkan berbeda-beda di tiap desa. Ini tidak hanya meliputi istilah-istilah khusus tertentu, tetapi juga kata-kata dasar dalam penggunaan sehari-hari juga berbeda. Salah satunya adalah untuk menyebut "kamu" yang dalam dialek lain adalah "koe", dalam Bahasa Wonosobo memiliki lebih dari satu. Bisa dengan kata deke, de'e, sira, rika, ra'i, sire. Saya tinggal di Desa Pecekelan di mana mayoritas menggunakan kata "sira". Ketika ngobrol dengan teman saya dari desa lain yang menggunakan "deke" jelas terdengar berbeda. Begitu juga ketika bertemu teman saya dari desa lainnya lagi yang menggunakan "de'e" ataupun "sire". Walaupun berbeda-beda, namun semuanya dipersatukan karena sama-sama pengguna kata nyong. 1 2 3 4 Lihat Travel Story Selengkapnya

gaya bangunan terutama untuk tempat tinggal khas jawa